Share

Pesantren Al-Fatah: Tempat aman ekspresi iman para waria

Sempat ditutup oleh aparat setempat pada 2016, pondok pesantren waria Al Fatah kini kembali aktif, sebagai tempat aman agar kaum transgender bisa mengekspresikan iman mereka tanpa diskriminasi.

Shinta Ratri, pemimpin pesantren Al Fatah menyebut, waria juga punya hak untuk beribadah. Dia pun menggalang berbagai dukungan dari tokoh masyarakat, termasuk istri Sultan Hamengkubuwono X, Gusti Kanjeng Ratu Hemas dan pemuka agama setempat.

Awal 2019, pesantren waria Al-Fatah mulai kembali aktif mengadakan kegiatan. Setiap minggu, pesantren mengadakan kelas membaca Al-Quran, tata cara salat serta kajian mengenai agama Islam.

Sejak kembali dibuka, santri yang berasal dari komunitas waria -yang kebanyakan bekerja di jalanan sebagai pengamen dan pekerja seks- ikut bertambah.

Ustaz Arif Nur Safri adalah salah seorang pemuka agama setempat yang yang menyatakan dukungannya pada pesantren waria tersebut. Menurutnya, siapapun berhak menjalankan agama sesuai keyakinan mereka.

“Naluri berketuhanan itu tidak bisa diganggu gugat,” kata ustaz Arif yang juga merupakan guru mengaji para santri.

Selain ilmu agama, pesantren Al Fatah juga mengajarkan pelatihan keterampilan, seperti tata rias serta terapi pijat kesehatan.

Shinta berharap, keterampilan ini dapat memberikan pekerjaan alternatif bagi para waria agar bisa mengangkat martabat mereka di masyarakat dan terhindar dari jerat hukum.

Leave a Comment